Syukur itu seperti tabu untuk menjadi ritual ibadah kita. Syukur hanya dan cuma bisa dirasakan oleh hati. Hati hanya dan cuma bisa aktif jika akal dimatikan. Ini adalah ajaran yang jelas namun disembunyikan oleh akal yang setiap orang punya. Akal menuntut kesempurnaan sedangkan syukur tidak harus sempurna untuk memulainya.
Hati tak mengenal lelah atau keterbatasan dalam beraktifvitas memenuhi makanan jiwa. Semua ajaran berasal dari penerimaan wahyu di dalam hati, bukan akal. Maka tidaklah salah jika kita berusaha menerima segala hal dengan akal namun terbatasi dalam hal syukur sehingga kita hanya merasa kenikmatan ketenangan jiwa pada luaran saja tidak sampai kedalamnya. Jiwa terasa terombang-ambing karena pemahaman akal yang tidak stabil menerjemahkan pertanda kebaikan pada setiap misi penciptaan.
Syukur adalah tindakan hati.
Tindakan hati mampu menembus secara metafisika ke langit ketujuh dan membawa kembali sel-sel ketenangan jiwa. Sifat iri, dengki dan kesombongan sedikit demi sedikit tergantikan dengan sel-sel ini. Hingga kita tersusun menjadi manusia yang mukhlis yang mampu mencerahkan jiwa lainnya.
Semua diawali dengan tindakan syukur dan diakhiri dengan tindakan syukur pula.
Syukur bukan hanya pembelajaran ucapan Alhamdulillah tetapi tindakan kompleks namun sederhana seperti sedekah materi maupun iman.
Materi disedekahkan tidak hanya untuk kaum membutuhkan tetapi juga bagi mereka yang menyerahkan pertanggungannya kepada kita sehingga Allah SWT membuka sumber pintu materi yang cukup.
Sedekah iman tidak lebih sulit pula, cukup mendoakan seseorang itu sudah menjadikan tindakan syukur yang kompleks.
Disini kita tidak berbicara tentang pahala dan dosa karena itu urusan Tuhan ku. Rumus apa pun yang engkau gunakan tidak akan mampu menghitung jumlah pahala dan dosa karena akal kita yang berperan di dalamnya.
Matikan akal dengan cara tindakan ikhlas.

0 comments:
Posting Komentar