Portfolio

Momenku

Catatan Diri Selama Hidup

23 Juni 2026

Nubuat Nabi Muhammad Antara Ada dan Tiada

Dalam eskatologi Islam, nubuat Nabi Muhammad mengenai akhir zaman terbagi menjadi dua kategori utama: Tanda-tanda Kecil (Ash-Shughra) dan Tanda-tanda Besar (Al-Kubra). Tanda-tanda besar (seperti turunnya Isa, munculnya Dajjal, dan matahari terbit dari barat) bersifat supernatural dan menandakan akhir dunia yang sudah sangat dekat.

Namun, tanda-tanda kecil lebih berkaitan dengan perubahan sosial, moral, ekonomi, dan teknologi. Jika dikorelasikan secara objektif dengan kondisi dunia saat ini, banyak dari nubuat tersebut sejalan dengan fenomena sosiologis dan perkembangan peradaban modern.

Berikut adalah korelasi objektif antara nubuat akhir zaman dan kondisi saat ini:

1. Kompetisi Mendirikan Bangunan Tinggi

Dalam sebuah hadis yang sangat populer (Hadis Jibril), disebutkan bahwa salah satu tanda kiamat adalah ketika "para penggembala domba yang bertelanjang kaki saling berlomba meninggikan bangunan."

  • Kondisi Saat Ini: Secara historis, Jazirah Arab didiami oleh masyarakat nomaden dan penggembala (Badui). Saat ini, kawasan tersebut (seperti Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Qatar) telah bertransformasi menjadi pusat ekonomi global dengan tingkat urbanisasi yang masif. Pembangunan Burj Khalifa di Dubai dan Jeddah Tower di Arab Saudi adalah contoh nyata dari kompetisi arsitektur pencakar langit di wilayah tersebut.

2. Persepsi Waktu yang Terasa Cepat (Taqarub Az-Zaman)

Nubuat menyebutkan bahwa menjelang kiamat, "waktu akan terasa semakin singkat; setahun terasa sebulan, sebulan terasa sepekan, sepekan terasa sehari."

  • Kondisi Saat Ini: Secara fisika, waktu tetap berjalan 24 jam sehari. Namun, secara psikologis dan sosiologis, era digital menciptakan hiper-konektivitas. Arus informasi yang instan, media sosial, dan gaya hidup modern yang serba cepat membuat manusia terus menerus terpapar stimulus. Hal ini memengaruhi fungsi kognitif dalam memproses memori, sehingga menciptakan ilusi psikologis bahwa waktu berlalu jauh lebih cepat dibandingkan pada era pra-industri.

3. Hilangnya Amanah dan Krisis Kepemimpinan

Nabi Muhammad bersabda bahwa kiamat akan terjadi ketika "urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya" dan hilangnya sifat amanah (kepercayaan/integritas).

  • Kondisi Saat Ini: Secara politik dan tata kelola global, dunia saat ini sering dilanda krisis kepercayaan terhadap institusi. Munculnya politik populis, korupsi, dan fenomena post-truth (pasca-kebenaran) di mana emosi lebih mendominasi daripada fakta objektif, mencerminkan krisis integritas. Banyak posisi strategis atau informasi publik dikendalikan oleh pihak yang memiliki modal atau popularitas (seperti influencer atau oligarki), bukan berdasarkan kepakaran atau etika.

4. Meluasnya Kebodohan dan Diangkatnya Ilmu

Nubuat menyatakan bahwa ilmu akan dicabut dan kebodohan akan merajalela, meskipun orang-orang masih bisa membaca.

  • Kondisi Saat Ini: Paradoks era informasi adalah: informasi sangat melimpah, tetapi kebijaksanaan dan literasi kritis sering kali menurun. Masyarakat modern berhadapan dengan hoaks, deepfake, dan algoritma media sosial yang menciptakan echo chamber (ruang gema). Akibatnya, kebodohan tidak lagi berbentuk buta huruf, melainkan ketidakmampuan membedakan kebenaran dari manipulasi informasi.

5. Banyaknya Konflik dan Pembunuhan (Al-Harj)

Disebutkan bahwa akan datang suatu masa di mana terjadi banyak Al-Harj (pembunuhan/konflik), hingga pembunuh tidak tahu mengapa ia membunuh, dan yang dibunuh tidak tahu mengapa ia dibunuh.

  • Kondisi Saat Ini: Sejarah modern ditandai dengan perang asimetris, terorisme, dan invasi militer yang sering kali digerakkan oleh kepentingan geopolitik yang rumit. Prajurit di lapangan sering kali hanya menjalankan perintah tanpa memahami akar konflik yang sebenarnya (seperti perang proksi), dan korban sipil berjatuhan tanpa memiliki kaitan langsung dengan konflik tersebut.

Analisis Objektif

Dari kacamata sosiologi dan sejarah, korelasi di atas menunjukkan bahwa teks-teks nubuat Islam berhasil memetakan trayektori peradaban manusia dengan sangat presisi. Modernisasi, kapitalisme global, dan revolusi teknologi membawa dampak ganda: di satu sisi memajukan peradaban material (bangunan tinggi, teknologi komunikasi), namun di sisi lain menggerus nilai-nilai fundamental kemanusiaan (integritas, kohesi sosial, dan kedamaian).


07 Juni 2026

Berdamai dengan Takut: Saat Iri Dengki Jadi Guru Adab

Berdamai dengan Takut: Saat Iri Dengki Jadi Guru Adab

Oleh: Asrul
Dulu saya pikir, iri dengki itu musuh. Sesuatu yang harus dibasmi, dilawan, dibenci habis-habisan. Saya takut padanya. Takut kalau hati saya kotor. Takut kalau amal saya habis terbakar seperti kayu di makan api.

Tapi makin ke sini saya sadar: ketakutan itu melelahkan. Semakin saya benci pada "penyakit" itu, semakin saya lelah berperang dengan diri sendiri.

Sampai akhirnya saya berdamai.

1. Iri Dengki, Rem Sosial yang Pahit tapi Efektif

Saya pernah takut berbuat salah di depan umum. Bukan karena sadar Allah melihat. Tapi karena takut diejek. Takut jadi bahan omongan orang yang dengki sama saya.

Konyol? Mungkin. Tapi itu fakta. 

Ternyata Allah Maha Lembut. Dia bisa menjaga hamba-Nya lewat lidah orang yang membenci. "Rem sosial" bernama rasa malu dan takut aib itu, pahit rasanya, tapi menyelamatkan dari kehancuran yang lebih besar.

Saya jadi paham: tidak semua hal buruk diciptakan untuk merusak. Ada yang diciptakan sebagai pagar. Iri dengki itu pagar. Pagarnya tajam, bikin luka kalau disentuh. Tapi ia menjaga batas.

2. Dari Benci ke Sadar: Naik Kelas Niat

Dulu saya jaga adab karena benci pada dosa. Benci pada aib. Benci pada omongan orang.

Sekarang saya belajar naik kelas. Melakukan pilihan bukan karena membenci, tapi karena menyadari.

Menyadari bahwa Allah hadir. Menyadari bahwa setiap detik adalah titipan. Menyadari bahwa jaga imej di depan manusia itu baik, tapi jaga adab di hadapan Allah itu tujuan.

Rasulullah bersabda: "Allah yang paling berhak untuk kamu malui". HR. Tirmidzi.

Saat sadar itu hadir, pilihan jadi lebih ringan. Bukan lagi "jangan maksiat, nanti ketahuan". Tapi "aku nggak maksiat, karena Dia melihat".

3. Berdamai Bukan Menyerah

Berdamai dengan rasa takut bukan berarti membiarkannya menang. Berdamai artinya mengakui: "Iya, rasa ini ada. Iya, ini ujian. Iya, ini bisa jadi guru".

Saya tidak lagi mengusir rasa takut akan penyakit hati itu dengan amarah. Saya duduk bersamanya. Saya dengar. Saya pahami fungsinya. Lalu saya pilih jalan saya: jalan yang disadari, bukan jalan yang dipaksa.

Orang beriman itu ajaib. Dikasih nikmat, dia syukur. Dikasih ujian, dia sabar. Tidak ada kata benci pada takdir.

Penutup

Jadi, terima kasih untuk rasa iri dan dengki yang pernah singgah. Terima kasih sudah jadi guru yang galak tapi jujur. 

Kau ajarkan aku menjaga lisan. Kau ajarkan aku menjaga langkah. Kau ajarkan aku bahwa di balik setiap hal yang tidak kita suka, ada hikmah yang menunggu untuk dipahami.

Dan terima kasih, Ya Allah, karena Engkau tidak pernah membiarkanku sendirian dalam proses "berdamai" ini.

"Hasbunallah wa ni'mal wakil" - Cukuplah Allah menjadi penolong kami.