Portfolio

Momenku

Catatan Diri Selama Hidup

07 Juni 2026

Berdamai dengan Takut: Saat Iri Dengki Jadi Guru Adab

Berdamai dengan Takut: Saat Iri Dengki Jadi Guru Adab

Oleh: Asrul
Dulu saya pikir, iri dengki itu musuh. Sesuatu yang harus dibasmi, dilawan, dibenci habis-habisan. Saya takut padanya. Takut kalau hati saya kotor. Takut kalau amal saya habis terbakar seperti kayu di makan api.

Tapi makin ke sini saya sadar: ketakutan itu melelahkan. Semakin saya benci pada "penyakit" itu, semakin saya lelah berperang dengan diri sendiri.

Sampai akhirnya saya berdamai.

1. Iri Dengki, Rem Sosial yang Pahit tapi Efektif

Saya pernah takut berbuat salah di depan umum. Bukan karena sadar Allah melihat. Tapi karena takut diejek. Takut jadi bahan omongan orang yang dengki sama saya.

Konyol? Mungkin. Tapi itu fakta. 

Ternyata Allah Maha Lembut. Dia bisa menjaga hamba-Nya lewat lidah orang yang membenci. "Rem sosial" bernama rasa malu dan takut aib itu, pahit rasanya, tapi menyelamatkan dari kehancuran yang lebih besar.

Saya jadi paham: tidak semua hal buruk diciptakan untuk merusak. Ada yang diciptakan sebagai pagar. Iri dengki itu pagar. Pagarnya tajam, bikin luka kalau disentuh. Tapi ia menjaga batas.

2. Dari Benci ke Sadar: Naik Kelas Niat

Dulu saya jaga adab karena benci pada dosa. Benci pada aib. Benci pada omongan orang.

Sekarang saya belajar naik kelas. Melakukan pilihan bukan karena membenci, tapi karena menyadari.

Menyadari bahwa Allah hadir. Menyadari bahwa setiap detik adalah titipan. Menyadari bahwa jaga imej di depan manusia itu baik, tapi jaga adab di hadapan Allah itu tujuan.

Rasulullah bersabda: "Allah yang paling berhak untuk kamu malui". HR. Tirmidzi.

Saat sadar itu hadir, pilihan jadi lebih ringan. Bukan lagi "jangan maksiat, nanti ketahuan". Tapi "aku nggak maksiat, karena Dia melihat".

3. Berdamai Bukan Menyerah

Berdamai dengan rasa takut bukan berarti membiarkannya menang. Berdamai artinya mengakui: "Iya, rasa ini ada. Iya, ini ujian. Iya, ini bisa jadi guru".

Saya tidak lagi mengusir rasa takut akan penyakit hati itu dengan amarah. Saya duduk bersamanya. Saya dengar. Saya pahami fungsinya. Lalu saya pilih jalan saya: jalan yang disadari, bukan jalan yang dipaksa.

Orang beriman itu ajaib. Dikasih nikmat, dia syukur. Dikasih ujian, dia sabar. Tidak ada kata benci pada takdir.

Penutup

Jadi, terima kasih untuk rasa iri dan dengki yang pernah singgah. Terima kasih sudah jadi guru yang galak tapi jujur. 

Kau ajarkan aku menjaga lisan. Kau ajarkan aku menjaga langkah. Kau ajarkan aku bahwa di balik setiap hal yang tidak kita suka, ada hikmah yang menunggu untuk dipahami.

Dan terima kasih, Ya Allah, karena Engkau tidak pernah membiarkanku sendirian dalam proses "berdamai" ini.

"Hasbunallah wa ni'mal wakil" - Cukuplah Allah menjadi penolong kami.

Demi Kesehatan Pikiran: Mengapa Sudah Saatnya Pemain Solo Meninggalkan Mobile Legends

Bagi banyak pemain, Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) bukan sekadar hiburan, melainkan wadah kompetisi yang telah menemani selama bertahun-tahun. Namun, apa jadinya ketika game yang seharusnya mengasah skill dan sportivitas justru berubah menjadi beban pikiran? Belakangan ini, MLBB semakin terasa seperti "game sampah" yang tak layak lagi mendapat tempat di memori perangkat kita, terutama bagi para solo player.

1. Matchmaking Solo yang "Di Luar Nalar"
Masalah paling fundamental yang menghancurkan pengalaman bermain saat ini adalah sistem matchmaking untuk pemain solo. Alih-alih memasangkan pemain berdasarkan tingkat keahlian yang setara untuk menciptakan pertandingan yang adil, sistem pencarian tim kini terasa sangat tidak masuk akal.

Pemain solo sering kali menjadi "korban" algoritma dengan dipaksa masuk ke dalam susunan tim yang seolah memang didesain untuk kalah. Ketidakseimbangan ini menghancurkan nilai sportivitas yang seharusnya menjadi nyawa dari sebuah game MOBA (Multiplayer Online Battle Arena). Kesalahan ini sudah berulang terlalu sering hingga mencapai titik di mana ia tak bisa lagi dimaafkan.

2. Hilangnya "Sentuhan Manusia" Akibat Logika Algoritma
Penurunan kualitas ini mengingatkan kita pada game-game kompetitif lain (seperti PUBG di masa tertentu) yang algoritmanya mulai terasa tidak relevan. Ada indikasi kuat bahwa sistem matchmaking kini terlalu banyak dicampuri oleh alur logika Artificial Intelligence (AI) yang manipulatif.

Sistem sepertinya tidak lagi murni membaca keahlian pemain, melainkan mengatur win rate dan engagement dengan cara yang merugikan. Hasilnya? Game ini kehilangan sentuhan manusianya. Kemenangan dan kekalahan terasa sudah diatur (settingan), sehingga pemain tidak lagi merasakan kepuasan dari hasil jerih payah dan strategi yang sesungguhnya.

3. Waktunya Menjaga Kewarasan
Bertahan selama 7 tahun dalam satu game adalah bentuk loyalitas yang luar biasa. Namun, ketika sebuah ekosistem digital sudah mematikan nilai kompetisi dan hanya menyisakan stres, keputusan paling logis adalah berhenti.

Inti dari bermain game adalah untuk melepas penat, bukan menambah beban mental. Jika algoritma justru membuat Anda emosi dan merasa dicurangi terus-menerus, maka solusinya hanya satu: hapus dan tinggalkan.

Kesimpulan: Mari Berhenti Agar Developer "Tahu Diri"

Ulasan bintang satu di platform distribusi aplikasi mungkin hanya sekadar angka, tetapi boikot massal adalah pesan nyata. Ayo ramai-ramai tinggalkan game ini. Langkah ini bukan sekadar bentuk protes atas sistem yang hancur, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap kesehatan pikiran kita sendiri. Terkadang, cara terbaik untuk membuat sebuah perusahaan mengevaluasi keserakahannya adalah dengan pergi meninggalkannya.