Diri terhempaskan bukan untuk membenarkan diri tapi disinilah diri berakhir. Kesendirian menjadikan diri betul-betul sendiri tidak seperti yang telah digambarkan.
Diri ini tidaklah sehebat kebersamaan keluarga, karena memang tidak mengerti. Diri siap dihempaskan dan ditinggalkan. Diri kini telah buta. Tak mampu melihat hubungan yang memang tiada. Kemungkinan buruk apa yang akan terjadi, maka terjadilah. Kemuakan hidup yang terstir membawa ke titik ini, tapi sekali lagi bukan untuk menyalahkan siapa pun.
Dirilah yang salah. Akan tetap salah. Untung ditengah ramainya hidup, titik ini datang.
Kini diri mengetahui tempatnya. Dan memang diri tidaklah pernah ingin sempurna. Biarkan seperti itu dan akan seperti itu. Diri aku ini telah buruk.
Hanya mencoba mensuarakan tuntutan perasaan. Perasaan yang tercampur emosi. Amarah mendemdam. Entah kepada siapa tersalurkan!
Kini, warna diri aku telah muncul. Diri aku bukanlah seperti dulu. Kini telah terbanting jatuh. Tidak ada yang benar di kepala diri aku sekarang.
Tak pernah ada tuntutan ke arah kepedulian. Diri hati ini membeku walau kematian telah mendatangi. Penyesalan? Apakah ada?
Diri aku tiada berdaya baik dari sisi materil maupun moral. Diri aku telah habis. Tidak ada kiblat. Tak pernah memohon pengasihani. Habis diri aku. Jika diri aku diadili, maka tak ada pembelaan lagi. Inilah warna diri aku hari ini.
Diri aku tidak memiliki daya lagi mengadakan apa yang tiada. Ingin segera diri menutupi aku-nya.
Titik ini mengapa harus datang!
Arah aoa lagi yang diri harus jalani agar aku bisa mengerti dan berjalan kembali. Aku hanya bisa berhenti dari diri. Diri tak sanggup menggerakkan aku.
Tak ada hal indah yang bisa dicapai. Hanya berbenturan dengan ruang dan waktu.
Apa yang harus dilakukan? Siapa ini yang bertanya!
Hingga titik ini, aku masih tidak berdaya dan tidak termaafkan. Akan kemana?
Aku hanya cocok untuk diri aku hari ini. Kelak kutitipkan jawaban atas apa yang kulalui.

0 comments:
Posting Komentar